2.27.2014

Kembali ke kubangan.

Di tengah malam pada tiga hari yang lalu, saya merasa didalam kepala saya banyak yang berteriak sahut menyahut. Terkadang seperti ada suara orang yang sedang menabuh drum terus-terusan hingga membuat pendengaran saya pengar. Lalu ketika mata terpejam, ada seseorang yang menyetel sebuah rekaman menyerupai slide dari proyektor. Rekaman-rekaman tersebut menunjukkan ketakutan-ketakutan saya yang membuat badan saya bergetar saking takutnya. Rekaman tentang masa lalu dan masa depan. Rekaman tentang keburukan yang telah saya lakukan di masa lampau, dan keraguan akan masa depan saya nanti. Padahal, saat ini saya telah memiliki pendamping yang telah berkomitmen akan bersama dalam menghabiskan hidup.
Saya tidak bisa tidur. Saya takut dengan putaran-putaran rekaman itu. Hingga pagi mencumbu pun saya tidak bisa menyingkirkan kegelisahan ini. Hanya lingkaran tangan suami yang memeluk yang membuat saya sedikit tenang.
Saya sendiri bingung, apa yang membuat saya seolah-olah tidak bisa menikmati hidup? Apalagi yang kurang dari yang telah saya dapat? Saya memiliki pekerjaan yang sangat membuat saya enjoy, dengan rekan-rekan dan waktu kerja yang fleksibel. Suami yang menyenangkan yang menerima saya dalam setiap kelebihan dan kekurangan. Keluarga yang hangat, dan teman-teman yang baik. Dari segi finansial pun saya merasa cukup walaupun tidak berlebihan.
Apa yang salah? Apa?
Saya merasa banyak kehilangan, entah kehilangan apa. Kadang-kadang saya berkontemplasi begitu jauh hingga ketakutan-ketakutan itu membobol pertahanan saya. Saya takut menghadapi hidup besok. Saya takut mendapatkan kekecewaan dari orang-orang yang saya percaya. Saya takut ada orang yang menusuk saya sehingga membuat saya jatuh.
Seharusnya ketakutan-ketakutan itu menjadi hal wajar yang bisa dienyahkan jika tekad kita kuat. Bahwa hidup memang penuh resiko. Tapi bagi saya, hidup adalah cara bunuh diri paling menyiksa. Saya tersiksa dengan ketakutan-ketakutan itu.
Mood saya menjadi turun naik dan emosi saya tak terkontrol. Suatu waktu saya bisa menjerit-jerit kegirangan jika senang, dan menangis meraung-raung tanpa alasan. Hal ini tidak datang saat saya mengalami siklus haid, tapi datang secara acak. Saya bisa membanting barang ketika kesal. Saya bisa berteriak sampai urat-urat di tenggorokan menegang. Lalu merutuki dunia dengan mudahnya.

Lalu saya mendatangi klinik psikiatrik milik Profesor Dadang Hawari. Tiga tahun yang lalu saya didiagnosis bipolar disorder. Lalu setahun yang lalu saya mengikuti pengobatan hipnoterapi selama 3 bulan yang terdiri dari 6 sesi. Dan sekarang saya merasa perlu mengambil lagi tindakan ini, yaitu kembali ke psikiater. Oleh Profesor saya diberi 3 obat, Remital, Deptral dan satu lagi obat racikan. Malam pertama saya mengonsumsi obat-obat tersebut, saya tertidur selama 2 hari. Namun mood saya cenderung menjadi stabil. Efek buruknya adalah, saya seperti lambat dalam berpikir. Saya tidak bisa langsung mengambil keputusan saat itu juga, saya memerlukan jeda waktu panjang untuk mencerna keputusan yang datang atau keluar.

Saya sudah berusaha sekuat mungkin untuk melenyapkan penyakit kejiwaan ini. Saya ingin berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan masa lalu saya maupun orang-orang terdekat saya. Saya ingin semua menjadi stabil dan menyenangkan hingga saya bisa menikmati hidup seperti lainnya.
Ketika saya tertawa saya ingin hati saya pun tertawa, dan menangis diwaktu yang tepat. Ingin bisa mempercayai orang lain yang ingin menjadi teman saya tanpa rasa curiga yang berlebihan. Ingin memiliki kehidupan sosial yang menyenangkan.

Saya ingin dan ingin.





2.11.2014

Dunia Rata.

Aku mau pulang... Tapi pintunya ditutup.
Aku tak tahu, apakah kuncinya masih ada, atau malah sudah dibuang.
Aku melempar sandal,
berjalan belum terseok.
Tapi semua sendi melorot sampai mata kaki.
Kenapa sih... kadang Tuhan menciptakan hal yang tak perlu.
Pada akhirnya berakhir di pembuangan dan jadi limbah,
bukan lagi sampah.

Kalau nanti sudah selesai...
Terputusnya lajur dari limpahan oksigen.
Maka jangan lagi ada yang ditertawakan.
Karena hidup adalah lelucon slapstik.
Kamu tertawa atas apa yang diderita yang lain.

Sudah lama sebelum menyadari,
bahwa aku melihat dunia rata.




Yogyakarta, 12 Februari 2014



10.22.2013

#3 Distopias



Kamu baru saja pergi tanpa menutup pintu,
meninggalkan sajak yang berbaris di tembok, serupa prasasti.
Kamu membekukan segala dimensi,
meninggalkan jejak antara diameter ruang dan durasi waktu,
di interval degup jantung yang tak keruan.
Ada ayat kepedihan yang terukir di tembok api.
Ada desir yang berhenti di nadi.
Lalu dalam puisi aku terlebur dengan delusi,
meraba kegelapan yang mengendapkan realitas dan fantasi.
Terlalu cepat kutenggelam dalam euforia.
Dan netra di hati yang terjebak di distopia.

Aku menjadi penjahat di setiap doamu.
Enggan mengejar tanpa sepatu.
Tak pula kututup pintu,
dan aku menatapmu pergi jauh hingga membeku,
serupa batu.






8.29.2013

#2 Montase Beku


Aku menatap kosong montase yang beku.
Gairah kehabisan lilinnya, tidak dengan apinya.
Ada maksud membakar habis sampai pangkal sumbu.

Waktu menjadi buron.

Ada yang sengaja menggelar panggung yang terlalu disorot lampu.
Membuka tirainya tanpa memberi aba-aba.
Penonton di bangku menjadi aktor.
Dan aktor di panggung menjadi penonton. 

Aku masih takut untuk menghadapi sandiwara hidup yang sengaja digelar Tuhan.
Masih tak sanggup membedakan mana figuran, mana pelakon utama.
Bahkan Tuhan pun sepertinya enggan ber-cameo.

Mengapa? 

Karena drama adalah kolase dari beribu perjalanan dari beribu orang.

Bukan, itu bukan kolase.
Itu montase.
Montase yang lalu kubekukan karena aku tak pernah bisa menentukan dimana menaruh klimaksnya.
Atau tragedinya.
Atau akan sepanjang apa durasinya jika montase itu selesai.

***
Aku mengunjungi kamar berjeruji nomer 1740
Markiy the Sad.

Jeruji yang berjumlah 12. Tegel kusam abu-abu berjumlah 39 kotak.
Ruang tanpa sandang.
Bahkan untuk helai yang harusnya menciptakan privasi di selangkangannya, dan ia tidak.
Menjuntai dan bergelambir setengah rusak.

Hanya karena ia produktif dengan tulus dan tanpa pretensi apapun yang membawaku kesini.
Di tempat yang seharusnya menjadi penghabisan manusia mempertimbangkan akal dan moral.
Ia tetap memanggilku dengan intonasi yang sama pada jeda seringainya,

"hai payudara..."

Bahkan tanpa harus mengingat lampau,
saat ia mengatakan bahwa payudara adalah mata Tuhan.
Dan itu cukup membuatku merasakan penghormatan darinya.

"Harus ku apakan mereka?"
Aku menunjuk montase beku yang kugulung dengan perkamen anti-waktu.
Menjulurkannya di batas jeruji, membiarkan tangan kotornya sekelebat mengusap ujung jariku dengan kegairahan yang mengerikan. Aku bergidik dengan sembunyi.

"Aih-ah-ya... 
Kau terlalu ketakutan untuk bebas... 
Bahkan kau tak mengenali kebebasan dirimu sendiri. 
Aih-ya... 
Yang kau lakukan bukanlah membuat montase ini menemukan jalan ceritanya,
tapi kau terlalu risau dengan potongan cerita yang menjadikannya montase..."

Ia membuang perkamen itu.
Lalu menggenggam batang penisnya. Membuat gerakan maju-mundur dan tempo gerakannya makin lama makin cepat. Makin lama makin cepat.
Makin lama makin cepat.
Makin lama makin cepat.

MAKIN LAMA MAKIN CEPAT.

Aku jijik tapi semakin merasakan mual di ujung tenggorokan, mataku makin tak bisa berpaling dari aktifitasnya.
Aku menelan ludah yang memanas di pangkal lidah.
Pembuluh darah menggelegak di ubun-ubun.
Mulutnya melenguh. Makin cepat gerakan tangannya makin keras lenguhannya.
Bergerak. Melenguh. Bergerak, Melenguh.
Bergerak.
Melenguh.
Aku berkeringat begitu banyak, membeku di jejakku.
Bergerak.
Melenguh.
Berkeringat.
Bergerak.
Melenguh.
Berkeringat.
Oh. Oh. Uh. Ah. Uh. Ah.

Lalu matanya menangkap mataku.
Memerangkapku disana yang baunya lebih busuk daripada ruangan tempatnya.
Aku muntah.
Begitupun dengan penisnya.

Tawanya keras dan makin lama makin lenyap seiring dengan jauhnya langkahku meninggalkan jeruji itu.

***

Didalam sana ia begitu fasih merayakan keterpurukannya dengan gairah yang sama.
Dan masih merasa terlampau bebas.
Hanya dengan sedikit kebohongan, ia menempatkan posisi terbalik pada cermin.
Kanan menjadi kiri,
kiri menjadi kanan.

Sedangkan aku tetap terpenjara di panggung yang terlalu luas.
Dengan banyak kebohongan yang kububuhi untuk pembenaran.
Juga para pelakon itu.
Para penonton itu.
Bahkan Tuhan yang tak berani menjadi cameo.
Aku dan mereka terlalu banyak mengarang kebohongan hingga montase menjadi beku.

***








29 Agustus 2013
Terimakasih banyak; Marquis de Sade atas gairahnya.



















7.07.2013

#1 Benang


Tak ada tempat yang lebih aman selain di dalam sini.
Dalam kegelapan diameter dua puluh dua sentimeter, 
dalam dekap kenyamanan yang tak membutuhkan cahaya.
Tapi, tak ada yang lebih menakutkan daripada cahaya yang telah menunggu di pintu gerbangnya.
Segumpal vaskular yang belum memiliki hak untuk memilih dan meminta.
Tanpa daya, dihapus ingatan seiring dengan sobeknya ketuban.
Aku dipaksa melihat dunia.



Aku memang telah lupa dengan rela.
Satu-satunya yang kuingat adalah,
disana terasa nyaman karena aku hanya sendiri.




Dalam gramatikal, pertemanan adalah istilah untuk menggambarkan perilaku kerjasama atau saling mendukung antara dua atau lebih dalam entitas sosial.
Tapi dalam perjalananku, teman adalah bentuk simbiosis mutualisme belaka.
Maka aku mengubah sudut pandangku.
Tak ada lagi konsep pertemanan. Yang ada hanyalah konsep kepentingan dan timbal balik.
Selebihnya hanyalah relasi basa basi.
Dan aku pun terus berjalan sendiri tanpa pernah menaruh bibit kepercayaan pada tangkup tangan siapapun.
Tak kubiarkan kutanam karena aku tak berani menuai.


Dan aku merasa memerlukan beberapa topeng dan gestur untuk menghadapi dunia basa-basi itu.
Seperti seorang pengidap sindrom asperger dengan tabel ekspresinya.
Aku mempelajari setidaknya 16 di antaranya.
Terpujilah semesta atas jasad mekanis ini.

Sampai suatu hari ibuku bertanya,
"Siapa teman baikmu?"

Aku terdiam, dan berjalan menuju labirinku.
Aku hanya menemukan sebuah ruangan monokrom dan sofa merah.
Bukan kekosongan absolut memang, tapi tetap saja kosong.
Ada siapa disana?
Ini ruang simulakrum.
Simulac-room?
Apakah ruangan ini memang berwarna monokrom atau aku yang mengidap buta warna parsial?
Selain warna hitam dan putih, aku hanya bisa melihat warna merah.
Sofa. Duduklah. Teman baikmu akan datang.
Aku pun duduk. Dan teman baikku datang.
"Aku Lyza. Akan datang yang lain."
Siapa?
"Dia dan dia."
Aku merasa manik matanya familiar dan memiliki kesamaan dengan manik mataku.
Kutangkupkan kedua tanganku. Memindahkan bibit-bibit itu ditangkupan tangannya.
Untuk pertama kalinya aku memutuskan untuk memulai menanam dan menuai.



Ia mengajariku tentang cara memintal benang.
"Pintallah benang yang elastis. Jangan pernah memintal benang yang masif. Hindari benang transparan, carilah benang yang kasat. Karena benang yang berwarna solid akan memudahkanmu untuk mengambil keputusan ketika ia mulai lapuk; Menjalinnya menjadi lebih kuat, atau memutuskannya dengan gunting."
Tanpa pamrih ia rela menggantikan posisiku ketika aku lelah mengoperasikan jasad mekanisku. 
Atau ketika otak dan hatiku gagal bersinkronisasi.
Akupun tertidur tanpa mimpi.

Tak lama setelah kedatangan Lyza, datanglah gadis muda yang memiliki tato segitiga di pergelangan tangannya. Lalu nenek berpayung hitam yang tak pernah tersenyum. Kami kerap duduk bersama dalam satu waktu yang lama. Lalu bertaruh dengan membuat cerita dengan tokoh imajinasi masing-masing. Siapa yang ceritanya paling bagus, ia yang berhak duduk di kursi kendali di ruang utama yang terdapat pembuluh arteri penyambung otak dan hati. 

Gadis bertato segitiga merah menyenangi serapan energi positif yang liar. Jiwanya menggebu dan waktu yang bergulir seakan tak pernah cukup untuknya.
Nenek berpayung hitam menyenangi kesenduan dan kesuraman. Tak harus selalu ada alasan untuk mengapresiasikan kesedihan, katanya.
Tetapi Lyza adalah dominasi keseluruhannya. Ia adalah kotak pandora.
Tak perlu definisi apapun untuk menjelaskan hubungan kami berempat. Satu sama lain saling mengisi. Jika ingin pergi maka kami pergi. Jika ingin diam, maka kami diam. Kadang kami saling membenci hingga rasanya ingin membunuh. Tapi tentu saja keinginan itu seperti menepuk udara kosong. Mudah dilakukan tapi tak akan mendapatkan apa-apa darinya. Ke-tidakterikat-an justru mengikat kami dengan fleksibel. Lyza menyebutnya sebagai 'benang yang tepat.'

Tapi ayahku tidak menyenangi hubungan kami. Ia membawaku pada seorang algojo yang membawa gunting pemutus benang. Bagiku ia eksekutor, tapi ia memperkenalkan profesi dirinya sebagai psikiater. Sesi tiga jam yang membuatku menguap enam belas kali. Dan membuat 'mereka' tertidur secara serentak di ruangan simulakrum.

"Kamu harus membuka hati dan pikiranmu. Karena hidup adalah tentang menghadapi resiko. Memang tak ada tempat yang aman di dunia ini, tapi banyak tempat yang bisa melindungimu dari ketidak-amanan itu."

"Selama ini kamu berdiri di kumparan delusi."

"Jalinlah hubungan baik dan positif dengan teman yang nyata. Yang akan membawamu pada resiko yang sebenarnya. Bagaimana mungkin lilin akan mengetahui fungsi dirinya jika ia tak merasakan kegelapan dan tersentuh api?"

"Jangan terpaku pada arti harfiah pertemanan. Tapi rabalah definisinya melalui proses ikatan itu sendiri. Simulakrum itu bukanlah rahim ibu. Ia menjebakmu, bukan memberi keamanan."

Aku terdiam dan membeku. 
Seperti tertangkap basah sebagai pengecut.
Ingin menyanggah.
Tapi aku tak tahu menyanggah untuk bagian kalimat yang mana.


***













6.10.2013

Dalam simulakrum.

Terlambat baginya untuk menyaput samar lingkaran emas di jari manisnya, karena mata pria itu sudah 2 menit yang lalu terpaku disitu.

"Kamu menikah?"

"Iya." Intonasi suaranya merendah hingga vokal terakhir bahkan nyaris tak terdengar.
"Sudah berapa lama?"
Sudah berapa lama? Bola matanya memilih untuk menangkap titik objek dibalik bahu sang penanya, menghindari gestur yang mengkamuflasekan kegugupannya.
"Kira-kira tiga tahun..."
Kira-kira.. ya kira-kira yang sudah tentu menunjukkan bahwa tidak ada apresiasi sama sekali dalam pengucapan bilangan barusan. Tiga tahun, lama atau sebentar?
"Berarti kamu menikah waktu masih 24 tahun? Wah relatif dini juga ya untuk ukuran urban yang saya tahu sekarang. Kenapa bisa?"
Ah sial, kenapa dia banyak mengajukan pertanyaan idiot seperti seorang anak kecil yang bertanya pada orangtuanya kenapa dia bisa lahir? Kenapa bisa? Seakan-akan didunia yang serba tidak pasti ini masih ada hal yang mustahil.  Namun ia menutupinya dengan senyum dua sentinya, berusaha menciptakan jeda untuk memikirkan jawaban apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan yang menurutnya salah.
Ia berdehem membersihkan kerongkongannya, pura-pura menatap khidmat cincin kawinnya demi menghindari tatapan sang penanya yang bahkan sepertinya bertambah penasaran.
"Lucunya, dulu orang-orang menganggap aku hamil diluar nikah hingga harus mengambil keputusan secepat itu," Ia terkekeh sendiri dengan ceritanya, melompati zona waktu dan tiba-tiba hinggap dimasa saat ia menjadi perbincangan orang-orang sekitarnya.
"Aku bertemu dengan dia 2 bulan sebelum kami memutuskan menikah. Padahal tahukah kamu, tidak jauh sebelum itu aku adalah individu yang tidak percaya dengan komitmen. Bahkan tidak pernah mau membiarkan diriku untuk mempercayai seorangpun, walaupun itu orangtuaku sendiri."
Pria itu menaikkan sebelah alisnya, namun mulutnya tetap terkatup dan telinganya tetap mendominasi generator otaknya untuk tetep mendengarkan. Maka ia melanjutkan ceritanya,
"Aku benci dengan konsep kepemilikan. Maka aku berusaha sekeras mungkin untuk menghindari komitmen, maksudku disini komitmen antar dua perasaan. Aku menganalogikan sebuah komitmen hanyalah segaris kekhilafan manusia yang mengakibatkan kesengsaraan berantai dan bertubi-tubi. Seperti terus berputar-putar pada satu lingkaran setan dan tak pernah muncul kepermukaan. Menghisap habis rona kehidupan dan artinya proses bunuh diri pelan-pelanpun dimulai. Jangankan dengan hubungan basa-basi seperti pacaran, Bahkan aku sangat alergi dengan konsep....... pernikahan." Ia menarik napas sampai otot diagfragmanya berkontraksi, menikmati setiap tulang rusuk yang terangkat dan rongga dada yang membesar, lalu menghembuskan karbondioksida sama nikmatnya ketika ia menyesap oksigen yang kasat mata.
"Pernikahan adalah lelucon. Gerbang penderitaan dan awal mula rantai sebab akibat dari kesengsaraanmu. Untuk apa pernikahan? Untuk saling menguasai? Karena artinya kita harus menurunkan standardisasi toleransi juga dengan tetek bengeknya. Seperti sekumpulan tuan tanah tamak yang bersengketa di atas tanah kosong, saling berebut memagari tiap meternya, dan mengkaveling-kavelingkan bak tanah kuburan sebagai tanda kepemilikan. Semua sangat menyedihkan, atau lebih tepatnya mengerikan untukku."
Mata pria itu membelalak, retinanya tetap berusaha menangkap sorot mata perempuan didepannya. Sorot mata itu seperti melebur bersama zona waktu yang ia lompati dan hanya meninggalkan jasad 
mekanis yang tak kasat.

"Kamu memiliki trauma? Atau..."

"Ya, aku seorang bipolar. Setidaknya psikiater memberikan diagnosis itu setelah memberikan serangkaian tes dan pertanyaan psikis untukku. 7 tahun yang lalu, aku hanya seorang reduksionis skeptis di semesta ini. Nyinyir, paranoia, dan penuh prasangka buruk terhadap siapapun. Aku tidak mempunyai teman dekat bahkan sekedar teman bersapa dijalan. Bagiku tidak ada konsep pertemanan, yang ada hanyalah konsep kepentingan. Aku selalu menganggap siapapun sebagai kompetitor, dan pertemanan yang mereka tawarkan hanyalah kompetisi belaka. Temanku hanya satu, yaitu aku dalam simulakrum. Karena dalam ruang itu aku bisa bertransformasi menjadi apapun, menjadi nenek berpayung hitam yang konservatif, gadis muda bertato segitiga dengan gairah mudanya, bahkan hanya menjadi sebuah inti sel yang tak berbentuk. Aku dan 'mereka-aku' bisa duduk bersama dalam satu sofa dalam satu waktu. Aku tidak pernah merasa kesepian dan selalu merasa aman. Satu-satunya hal yang kuanggap benar untuk mengambil resiko dalam sosial adalah dengan menjadi parasit dalam hubungan oranglain. Kamu tahu, 3 kali aku berhasil merusak hubungan sepasang, dan membuktikan bahwa komitmen hanyalah basa basi untuk menyakiti diri pelan-pelan, sampai sekarat dan akhirnya jatuh."
"Hingga akhirnya, aku menyadari bahwa dalam hal sosial aku tertinggal jauh dibelakang. Aku seperti homo sapiens yang menolak kemajuan peradaban tapi bersikeras bahwa bumi tetaplah berputar. Aku tetap mengubang dalam zona amanku dan tidak berani menghadapi resiko yang justru nantinya akan membuat hidupku bergerak seperti rolet rusia; tak tertebak dan tak membosankan, seperti yang selalu aku harapkan akan menjadi cikal keajaibanku."
"Dan untuk itu maka akhirnya kamu membiarkan perasaanmu luluh terhadap suamimu? Memutuskan untuk berbagi toleransi dengannya dan dengan dirimu sendiri melalui pernikahan? Hal yang justru menjadi konflik dalam perdebatan batinmu?" Lagi, frasa yang meluncur dari bibir pria itu adalah berbaris kalimat tanya dengan makna ambigu; membutuhkan jawaban atau hanya memastikan. 
Untuk kesempatan kali ini ia memberanikan diri menatap langsung mata pria itu, dan dalam rentang 48 detik ia mencoba mentransfer serangkaian kode airmuka sebagai protes atas desakan kuantitatif lewat pertanyaan-pertanyaannya barusan.
"Maaf, mungkin kamu jengah karena aku terlalu banyak bertanya. Tapi menurutku semua ini adalah proses alamiah. Aku tertarik denganmu, kamu tertarik dengan ketertarikanku, lalu terciptanya paradoks antara naluri sosial dan benteng asosialmu hingga kemarin-kemarin timbal balik kita hanyalah tentang seputaran responsif rasa, dan klimaks dari semua itu adalah perbincangan kita sekarang. Karena akhirnya aku tahu bahwa kamu sudah taken, sudah dimiliki secara legal." Pria itu menekankan intonasinya dibagian kata 'kamu-tertarik-dengan-ketertarikanku' sebagai poin alasan dimana semua ini akhirnya bisa berawal. 

Celakalah semesta yang mempunyai skenario acak, atau bahkan bisa dibilang ajaib secara relatif. Seolah semudah membalikkan telapak tangan ketika tiba-tiba ia terpagut pada sepasang mata coklat hangat ditoko roti ini. Lalu mata yang berkolaborasi dengan bibir; tatapan yang berkolaborasi dengan senyum. Senyum yang sama hangatnya. Ditambah bonus sapaan hangat sehangat roti gandum keju yang kini selalu ia pesan tepat pukul 8 pagi. Roti gandum keju kesukaan.... suaminya. Hanya roti itu yang menjadi pengingatnya saat ia terlalu tenggelam dalam kehangatan yang beresiko. Ya, semua ini adalah klimaks untuk sebuah proses alamiah. Memang belum terlalu jauh ia melangkah, namun tetap saja yang dipijaknya adalah tanah beralaskan duri. Atau kasarnya bisa disebut cacat moral jika dilihat dari etika yang berlaku di semesta ini.
Ia merutuki masa lampau saat dimana akhirnya hipnoterapis itu berhasil membuatnya berdamai dengan paranoianya. Belajar memaafkan dan bertoleransi dengan oranglain. Hingga puncaknya berani mengambil resiko kehidupan untuk menerima sebaris kata dan niat seorang pria pada atmosfer dramatis dan melankolis. Berkata 'ya, aku mau' yang berarti menyerahkan apa yang ia miliki pada seorang yang bahkan belum sepenuhnya meyakinkan dirinya untuk bisa percaya. Aku memang belum bisa percaya saat itu, namun apa salahnya aku memasuki dunia resiko yang selama ini bersikeras aku hindari? Bagaimana mungkin lilin akan tahu fungsi dirinya jika ia tidak merasakan kegelapan? Egosentrisnya berusaha membela.
Ia ingat bagaimana akhirnya ia menyetujui dengan rela untuk jatuh suatu saat dengan pilihannya. 'Kamu siap susah? Ya. Siap dikhianati? Ya. Siap miskin? Ya. Siap bahwa mimpi tentang cinta hanyalah bualan belaka? Ya." Walaupun batinnya masih terinfeksi virus skeprisisme namun setidaknya ia telah siap segalanya. Tak usah menggantinya dengan kata-kata yang tetap saja bermakna fatamorgana sahara. "Siap bahagia? Siap dimabuk cinta? Siap dimanja dan dipuja?" Ya, tentu saja semua itu tetap sebentuk fatamorgana untuk pelarian dari kepengecutan menghadapi hidup. Namun virus itu tetap mengajukan serentetan syarat untuk terjadinya sebuah akad, yaitu ia menolak segala bentuk perayaan termasuk adanya sebuah pelaminan pengantin. Ia sangat alergi dengan pelaminan. Baginya lebih mudah mendatangi pemakaman daripada sebuah perayaan pernikahan. Sepasang ondel-ondel yang didandani dan dipajang di depan untuk di tertawakan tamu-tamu, bahwa mereka sama sekali tidak tahu apa yang tengah mereka lakukan. Mungkin yang ada dibayangan mereka adalah lembaran baru yang penuh cinta, kegiatan ranjang yang legal, punya teman tidur, teman sarapan, teman seru untuk berdebat barang apa yang akan masuk di keranjang di supermarket, dan segala mimpi-mimpi rumah tangga yang bahagia yang selalu berpusar pada cinta. Berbeda dengan sesosok mayat dipeti mati, ia membawa dirinya sendiri untuk sesuatu yang sudah pasti, yaitu kematian.

Tapi, ia tidak menganggap bahwa ikatan komitmen ini adalah neraka, baginya pernikahan ini justru tantangan dan seolah menjadi Las Vegas. Perjudian hidup yang serius yang hasilnya tergantung dari strategi bertahan dan kebaikan semesta, dengan suami yang ia cintai sebagai partner judinya. Semacam teori ko-evolusi, bahwa yang bertahan adalah yang bisa bekerja sama dan bermutual, bukan lagi hukum rimba yang kini telah basi. Dalam hal ini kerjasama dengan partner yang sewaktu-waktu bisa menjadi kompetitor jika ada poin kontra dalam relasinya, yaitu pengkhianatan. Dan kini, justru ia sendiri yang mengingkari apa yang telah ditanamkan sebagai akar prinsipnya. 
Seandainya hipnoterapis itu tetap membiarkannya paranoia, mungkin ia tidak akan sebegitu mudahnya diterobos hanya lewat tatapan. Ia tidak ingin mudah bertoleransi terhadap perasaan yang harfiahnya ilegal. Selama tiga tahun ia berhasil memegang deretan royal flush sebagai kegemilangan ko-evolusi bersama partnernya, namun kini meja judi disebelah telah menggiurnya untuk memulai permainan. Perjalanan dengan suaminya memang sudah berjalan pada alurnya, seperti kereta pada relnya sendiri dan berjalan dengan intensitas yang tetap sama. Namun masalahnya adalah tidak ada masalah serius diantara mereka. Semua seperti kenormalan semata yang makin lama makin menuntut untuk tidak stagnan seperti fraktal kuantum pada rumus fisika. Tetap di titik stabil pada grafik emosional. Hampir terasa membosankan untuk waktu yang dirasa belum terlalu lama.
Aneh karena semua ini menjadi serba paradoks untuknya! Begitu memusingkan hingga 'aku-mereka' dalam simulakrum pun turut berebut menginterupsinya!

"Aku tidak bisa membeli roti disini lagi."

Pria itu sejenak tertegun. Ada percikan ketidakrelaan sebagai responsif dari perkataan perempuan didepannya barusan. Mereka terdiam dalam kuartal jeda. Cukup lama untuk rentang angka dalam satuan detik.
"Jangan, biarlah kita melupakan yang terjadi dan tidak saling sapa lagi, tapi tetaplah bahagiakan suamimu dengan roti ini. Mungkin banyak roti gandum keju ditoko lain, tapi percayalah, tidak ada yang rasanya terbaik seperti disini."
Ia terkekeh, "roti ini buatanmu, bukan? Entah mengapa aku membayangkan seperti menyuguhkan bangkai tikus untuk suamiku sendiri di pagi kami."
Roti ini adalah cikal bakal pengkhianatan. Lanjutnya dalam hati.
"Roti ini adalah peringatan agar kita tidak lebih jauh lagi melangkah... Roti ini adalah utusan semesta dari suamimu."
Ia tersentak dan mendadak terlempar dalam kumparan paradoks, antara menyetujui pernyataan pria itu barusan atau mengganggapnya sebagai sikap sok gentle. Tidak, bukankah sejak awal ia menganggap roti ini adalah alarm untuk menghentikan langkahnya lebih jauh? Ia yang tahu bahwa suaminya sangat menyukai roti gandum keju sebagai sarapannya, walaupun suaminya tidak meminta, namun dengan senang hati ia melangkahkan kaki mencari toko roti terbaik di kotanya. Sukarela keluar rumah sebelum pukul 8 pagi, sebagai pembeli pertama sejak papan kecil bertuliskan 'buka' didepan toko itu dipasang. Mengapa aku menjadi sedangkal ini dalam memberikan penilaian? Berhakkah aku menilai? Ia tahu sejak mata pria itu terpaku pada cincin di jari manisnya adalah tanda bahwa proses alamiah ini memang akan bertemu klimaksnya. Pilihannya hanya dua, menganggapnya sebagai resiko menggiurkan atau menghentikan kecacatan moral ini. Tak akan ada lagi percikan apapun pada pukul delapan pagi dan seterusnya. 
Tiba-tiba ia merasa merindukan suaminya. Lalu ia tersenyum kecil dan mengusap cincin di jari manisnya dengan rasa sayang. Ia beranjak dari kursi, mengambil bungkusan dari atas meja.

"Baiklah, semesta telah memberi jawaban. Terimakasih untuk hari-hari kemarin." Ia tersenyum dan menatap sepasang mata hangat itu penuh makna. 

***





Gadis bertato segitiga membanting lembaran manuskrip itu ke atas meja. Matanya garang menatap nenek berpayung hitam di ujung sofa, lalu menatapku yang tengah menunggu respon berupa interupsi ataupun penilaian. Lalu ia berteriak,
"SUNGGUH CERITA PENDEK YANG MEMBOSANKAN YANG PERNAH AKU BACA DALAM SIMULAKRUM INI!! SINGKIRKAN! AKU TIDAK SUKA TOKOH PEREMPUAN ITU YANG MENYERAH PADA ARUS ETIKA! JUGA TOKOH PRIA YANG LABIL DALAM POSISI ANTAGONISNYA!!" 
Nenek berpayung hitam bersiap menyanggahnya, namun gadis itu keburu meninggalkan simulakrum. Aku mengangkat bahu dan bergumam, yah namanya juga dalam simulakrum, mana aku tahu relativitas antara imajinasi dengan realitas?






11 Juni 2013





11.26.2012

Manusia (tidak) bertopeng.

Manusia pagi tak seramah pancaran sinar pertama matahari.
Mereka adalah paradoks dari gradasi cahaya itu sendiri.

Ibu-ibu bertubuh gemuk cemberut dimuka pintu rumahnya.
Tanpa sapa atau basa basi untuk ucap selamat pagi.

Menyusuri jalan untuk membeli semangkuk bubur kacang hijau,
lelaki bermotor merah melambatkan lajunya, memutar balik arah dan mengikuti langkahku pergi.
Bersiul menjijikan.
Rendahan, seperti biasa sejenisnya bertingkah.

Disebuah warung yang benderang dan tak remang,
lagi-lagi tingkah polah tetap rendah,
mata-mata yang memandang seperti ingin menelanku bulat-bulat
seperti menembus berhelai lapis sandang,
apalagi jikaku benar-benar telanjang?

Pemilik warung benderang yang pongah pun ikut ambil bagian,
permintaan serba ditiadakan,
satu penawaran dianggap seribu beban.

Pagi ini aku menemukan manusia-manusia yang belum sempat mengenakan topengnya.
Paradoks dari gradasi cahaya matahari,
tanpa topeng dipangkal pagi.





05.25 a.m